Minggu, 29 Maret 2015

aqiqah bekasi

Hukum Aqiqah Anak yaitu sunnah (muakkad) seperti komentar Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi′i serta sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur serta hampir semua ulama ahli fiqih (fuqaha).Dasar dimana dimanfaatkan dengan kalangan Syafii & Hambali dengan mengatakannya yang merupakan sesuatu yg sunnah muakkadah yaitu hadist Nabi SAW. Dimana berbunyi, “Bocah tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

Namun demikian, jika terlewat serta tak boleh dilaksanakan pada hari ketujuh, ia boleh dilaksanakan pada hari ke-14. Setelah itu jika tidak jua, maka pada hari ke-21 ataupun kapan jua ia mampu.Imam Malik berkata : Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) ataupun setelahnya Aqiqah tersebut telah sangat. Disebabkan prinsip ajaran Islam yaitu mengampangkan bukan mempersulit sebagaimana firman Allah SWT: “Allooh menghendaki kegampangan bagimu & tdk menghendaki kesukaran bagimu”. (QS.Al Baqarah:185)

Namun setelah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan pula pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, disebabkan pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas serta ke dua puluh satu yaitu sifatnya sunnah & amat utama bukan wajib. Serta boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.Bayi yg meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yg keguguran dengan syarat telah berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya

Post By : aqiqah bekasi
Post By : aqiqah bekasi
Post By : aqiqah bekasi